Dokumentasi rambu jalan kuno, papan nama toko pelabuhan, dan lettering tangan kapal nelayan tradisional sebagai akar estetika grafis maritim Nusantara.
Berjalan menyusuri kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa, mata yang terbiasa dengan desain grafis akan cepat menemukan sesuatu yang menarik di atas kepala: papan nama toko. Sebagian dicat tangan di atas seng atau kayu, sebagian dipahat di ambang pintu, sebagian lagi tinggal bayangan huruf yang memudar di tembok kapur. Di Cirebon, Semarang, dan Lasem, papan-papan ini membentuk lapisan teks yang tumpang tindih, sebuah arsip terbuka yang bisa dibaca siapa saja yang mau berhenti sebentar dan mendongak.
Esai ini merangkum catatan lapangan tim riset kami selama beberapa kali perjalanan menyusuri pesisir. Kami tidak berangkat dengan teori yang rapi. Yang kami bawa hanya kamera, buku catatan, meteran gulung, dan pertanyaan sederhana: apa yang membuat huruf-huruf di kota pelabuhan terasa begitu berbeda dari huruf di pusat kota modern?
Papan Nama sebagai Arsip Terbuka
Papan nama toko jarang dianggap karya desain. Ia dibuat untuk kebutuhan praktis: memberi tahu orang apa yang dijual, siapa pemiliknya, dan di mana pintunya. Justru karena itu ia jujur. Pembuatnya tidak sedang mengikuti tren, melainkan menjawab kebutuhan pelanggan yang lewat, dengan bahan dan keterampilan yang ada di sekitarnya. Hasilnya adalah tipografi yang tumbuh dari tempatnya sendiri.
Banyak papan yang kami temui sudah berganti fungsi. Toko kelontong berubah menjadi bengkel, gudang menjadi kafe, rumah abu keluarga menjadi rumah tinggal biasa. Namun papan lama sering dibiarkan, entah karena sayang, entah karena tidak ada yang sempat menurunkannya. Di situlah lapisan sejarah kota bisa dibaca: nama usaha yang sudah tutup bersanding dengan nomor telepon yang tak lagi aktif, dan semuanya ditulis dengan gaya huruf yang mencerminkan zamannya.
Selain papan toko, kami juga memperhatikan rambu jalan dan penanda lama yang masih tersisa: pelat nama jalan dari besi tuang, angka rumah yang dicat di atas ambang pintu, hingga petunjuk arah ke pelabuhan yang hurufnya sudah aus. Penanda resmi semacam ini biasanya dibuat lebih seragam daripada papan toko, tetapi justru di situ menariknya. Ketika rambu standar bertemu dengan papan buatan tangan di jalan yang sama, kita bisa melihat dua cara berpikir tentang huruf: satu dari meja perencana kota, satu lagi dari bengkel cat di ujung gang.
Tiga Aksara dalam Satu Bidang
Hal paling memikat dari tipografi pesisir adalah perjumpaan aksara. Di satu fasad, huruf Latin kapital tebal bisa berdiri berdampingan dengan karakter Hanzi yang ditulis vertikal, sementara di papan masjid atau madrasah tak jauh dari situ, teks Arab Pegon menuliskan bahasa Jawa dengan huruf Arab. Ketiga sistem tulisan itu punya logika yang berbeda: arah baca, proporsi, dan hubungan antara goresan tebal dan tipis.
Pembuat papan nama tidak memperlakukan perbedaan itu sebagai masalah. Mereka menyeimbangkannya dengan intuisi. Karakter Hanzi diberi bingkai sendiri, huruf Latin disesuaikan tingginya agar sejajar dengan blok karakter, dan warna dipakai untuk memisahkan informasi. Hasilnya bukan campuran yang kacau, melainkan komposisi yang terasa mantap dan mudah dibaca dari seberang jalan. Bagi perancang grafis masa kini yang sering kesulitan memadukan dua jenis huruf saja, papan-papan ini adalah pelajaran yang rendah hati.
Di Lasem, perjumpaan ini terasa sangat padat karena kota kecil itu menyimpan banyak rumah tua dengan gerbang bertulisan. Di Semarang, kawasan pecinan dan kota lama memperlihatkan bagaimana huruf toko berubah mengikuti teknologi cetak dan cat. Di Cirebon, pengaruh keraton, pesantren, dan perdagangan bertemu di tembok yang sama. Tiap kota punya aksennya sendiri, seperti dialek dalam bahasa visual yang sama.
Tangan Pelukis Huruf
Di balik setiap papan ada tangan seorang pelukis huruf. Nama mereka jarang tercatat, tetapi jejaknya terlihat jelas. Ada yang gemar menambahkan bayangan di sisi kanan huruf agar tampak timbul, ada yang selalu menutup kata dengan garis hias kecil, ada pula yang punya cara khas menggambar huruf R dan S. Setelah melihat cukup banyak papan, tim kami mulai bisa menebak mana yang mungkin dibuat oleh tangan yang sama.
Tradisi yang sama hidup di perahu nelayan. Lambung kapal dicat dengan nama perahu, nama pemilik, atau doa keselamatan, lengkap dengan ornamen warna-warni yang kontras dengan biru laut. Huruf-huruf ini dibuat untuk dibaca dari kejauhan, di bawah terik matahari, dan harus bertahan menghadapi ombak. Karena itu bentuknya tegas, berkontur jelas, dan sering diberi garis tepi berwarna lain. Prinsip keterbacaan yang dipelajari desainer di ruang kelas sudah lama dipraktikkan di dermaga.
Warna, Cuaca, dan Garam
Udara laut tidak ramah bagi cat. Garam, panas, dan hujan membuat papan nama cepat pudar, mengelupas, lalu dicat ulang. Tidak jarang kami menemukan papan yang menyimpan dua atau tiga generasi tulisan sekaligus: huruf lama yang samar masih terlihat di bawah huruf baru. Lapisan ini memberi petunjuk tentang perubahan selera, pergantian pemilik, bahkan perubahan ejaan bahasa Indonesia.
Palet warnanya pun khas. Merah, hijau botol, kuning tua, dan biru laut sering muncul berpasangan dengan putih kapur. Warna-warna ini bukan hasil riset merek, melainkan pilihan yang tersedia di toko cat setempat dan terbukti tahan cuaca. Ketika dipindahkan ke layar atau kertas, palet tersebut kehilangan konteksnya bila tidak disertai keterangan tempat dan waktu. Karena itu kami selalu memotret papan bersama lingkungan sekitarnya.
Cara Kami Mendokumentasikan
Mendokumentasikan tipografi vernakular membutuhkan disiplin sederhana agar hasilnya bisa dipakai peneliti lain. Kebiasaan yang kami jalankan di lapangan antara lain:
- Memotret papan secara frontal dan dari sudut jalan, agar ukuran dan konteksnya terbaca.
- Mencatat lokasi, arah fasad, dan kondisi cuaca saat pemotretan.
- Mengukur tinggi huruf dan lebar papan bila masih bisa dijangkau.
- Meminta izin dan berbincang dengan pemilik bangunan tentang riwayat papan tersebut.
- Membuat sketsa cepat untuk huruf yang rusak, sebelum detailnya hilang sama sekali.
Percakapan dengan pemilik toko sering menjadi bagian paling berharga. Dari mereka kami mendengar siapa yang dulu mengecat papan, mengapa warna tertentu dipilih, atau bagaimana nama usaha diwariskan dari orang tua ke anak. Informasi seperti ini tidak tercetak di mana pun dan mudah hilang ketika bangunan berpindah tangan.
Dari Jalanan ke Meja Desainer
Ketertarikan pada huruf vernakular kini mudah ditemukan di poster, kemasan, dan identitas kafe. Hal ini menggembirakan sekaligus perlu dicermati. Meminjam gaya tanpa memahami asal-usulnya berisiko mengubah tradisi yang masih hidup menjadi sekadar ornamen retro. Kami percaya cara terbaik menghormati tipografi pesisir adalah mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, menyebut sumbernya, dan bila memungkinkan bekerja sama dengan para pelukis huruf yang masih berkarya.
Huruf di kota pelabuhan tidak pernah dirancang untuk dipajang di museum. Ia dibuat untuk dibaca, dipakai, dan dicat ulang. Justru karena itu ia layak diarsipkan.
Tipografi pesisir tidak bisa dipisahkan dari bentuk kota yang menaunginya: jalan yang sejajar garis pantai, gudang yang menghadap pelabuhan, dan kampung yang terus beradaptasi dengan air. Pembaca yang ingin memahami konteks ruang tersebut dapat melanjutkan ke monograf Morfologi Kota Pesisir: Jakarta, Cirebon, Semarang, sebuah studi spasial yang membantu menjelaskan mengapa huruf-huruf di sepanjang pesisir tumbuh seperti yang kita lihat hari ini.