Panduan teknis mengatur kelembapan ruangan, perlindungan dari sinar ultraviolet, dan tata cara membuka jilidan hardcover tanpa merusak jahitan punggung buku.
Membeli cetakan terbatas adalah awal dari sebuah tanggung jawab. Buku bernomor seri, monograf berjilid kain, atau portofolio foto reproduksi tinggi dibuat dengan bahan yang dipilih agar tahan lama, tetapi bahan terbaik pun bisa rusak bila disimpan sembarangan. Iklim tropis yang lembap, cahaya matahari yang terik, dan kebiasaan kecil kita sehari-hari diam-diam menentukan apakah sebuah buku masih layak dibuka oleh generasi berikutnya.
Panduan ini kami susun dari pengalaman merawat koleksi ruang baca dan dari pertanyaan yang paling sering diajukan kolektor. Isinya bukan pengganti nasihat konservator profesional, melainkan kebiasaan dasar yang bisa dijalankan di rumah atau studio tanpa peralatan mahal.
Musuh yang Tidak Terlihat
Kerusakan kertas jarang terjadi dalam semalam. Ia berlangsung perlahan dan sering baru disadari ketika sudah terlambat. Ada lima penyebab utama yang perlu diwaspadai: kelembapan yang naik turun, suhu yang terlalu panas, cahaya, debu dan serangga, serta tangan manusia. Kelimanya saling berkaitan. Ruangan lembap mengundang jamur, jamur menarik serangga, dan serangga meninggalkan noda yang sulit dibersihkan.
Selain faktor luar, kertas juga bisa rusak dari dalam. Kertas yang mengandung asam akan menguning dan rapuh seiring waktu, dan asam itu dapat berpindah ke halaman atau benda lain yang menempel padanya. Inilah sebabnya penerbit buku seni memilih kertas bebas asam, dan inilah juga alasan kolektor perlu berhati-hati dengan apa saja yang diselipkan di antara halaman.
Suhu dan Kelembapan: Stabil Lebih Penting daripada Sempurna
Rentang yang umum dianjurkan untuk ruang simpan buku adalah suhu sekitar 18–22°C dengan kelembapan relatif di kisaran 50%. Angka ini bukan aturan mutlak. Yang jauh lebih penting adalah kestabilan. Kertas, kain, lem, dan karton menyerap serta melepaskan uap air dengan kecepatan berbeda. Bila kelembapan naik turun dengan cepat, bahan-bahan itu memuai dan menyusut tidak serentak, sehingga sampul melengkung, halaman bergelombang, dan punggung buku tertarik.
Di rumah tropis, tantangan terbesar biasanya pendingin ruangan yang dinyalakan siang hari lalu dimatikan pada malam hari. Perubahan seperti ini justru lebih merugikan daripada ruangan yang sedikit hangat tetapi stabil. Bila memungkinkan, simpan koleksi di ruangan bagian dalam rumah, jauh dari dinding luar yang terkena panas matahari, kamar mandi, dapur, atau gudang bawah tanah. Sebuah higrometer digital sederhana sudah cukup untuk memantau kondisi ruangan dari hari ke hari.
Bila kelembapan sering terlalu tinggi, alat penurun kelembapan dapat membantu. Pastikan juga udara tetap bergerak, karena udara yang diam di sudut rak tertutup adalah tempat favorit jamur. Hindari menyimpan buku langsung menempel ke dinding, dan sisakan sedikit jarak agar sirkulasi tetap berjalan.
Cahaya dan Sinar Ultraviolet
Cahaya adalah musuh yang paling mudah diremehkan karena kerusakannya tidak bisa dipulihkan. Sinar ultraviolet dari matahari maupun dari beberapa jenis lampu memudarkan warna sampul, terutama kain berwarna dan tinta pada punggung buku. Buku yang dipajang menghadap jendela bisa kehilangan warna punggungnya dalam waktu yang lebih singkat dari dugaan, sementara bagian yang tertutup buku lain tetap cerah.
Letakkan rak jauh dari jendela, atau pasang tirai dan lapisan kaca penahan ultraviolet. Untuk pencahayaan ruangan, lampu LED dengan emisi ultraviolet rendah adalah pilihan yang baik. Bila Anda senang memajang sampul buku tertentu, gantilah buku yang dipajang secara berkala agar paparan cahaya tidak menumpuk pada satu judul saja. Perhatikan pula lampu sorot di dalam lemari pajang, karena panasnya dapat mengeringkan kertas, kain, dan lem sampul.
Rak dan Cara Menyimpan
Buku berukuran biasa sebaiknya disimpan tegak, dengan buku lain atau penyangga di sisinya agar tidak miring. Buku yang miring dalam waktu lama akan membuat punggungnya melintir dan jilidnya kendur. Jangan pula menjejalkan buku terlalu rapat, karena menarik satu buku dari barisan yang sesak sering kali merobek bagian atas punggungnya.
Monograf berformat besar dan berat lebih aman disimpan rebah, cukup beberapa judul dalam satu tumpukan, dengan buku terbesar di bagian bawah. Bila disimpan tegak, bobot halaman akan menarik blok buku ke bawah dan menjauh dari sampulnya. Pilih rak logam berlapis cat yang sudah kering sempurna atau kayu yang sudah diberi pelapis, karena beberapa jenis kayu mentah dapat melepaskan uap asam.
Debu, Serangga, dan Kebersihan Rak
Debu bukan sekadar masalah kebersihan. Partikel halus dapat mengikat kelembapan dan menjadi makanan bagi jamur, sementara debu yang menumpuk di bagian atas blok buku perlahan meresap ke tepi halaman. Bersihkan rak secara rutin dengan kain kering atau kuas berbulu lembut, lalu sapu bagian atas buku dari arah punggung ke luar sambil memegang buku dalam keadaan tertutup rapat.
Serangga seperti rayap, kutu buku, dan kecoak menyukai ruangan yang gelap, lembap, dan jarang disentuh. Periksa koleksi secara berkala, terutama bagian belakang rak dan buku yang lama tidak dibuka. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain lubang kecil di sampul, serbuk halus di dasar rak, atau bekas gigitan di tepi halaman. Hindari menyemprotkan pestisida langsung ke buku. Bila serangan sudah meluas, mintalah bantuan tenaga profesional yang terbiasa menangani koleksi kertas.
Kotak, Sampul, dan Pelindung
Kotak arsip bebas asam memberi perlindungan berlapis terhadap debu, cahaya, dan perubahan kelembapan yang mendadak. Untuk edisi istimewa, kotak berengsel yang bisa dibuka seperti buku sangat membantu, karena buku dapat diambil tanpa ditarik dari celah sempit. Sampul plastik bening dari bahan poliester yang stabil juga aman untuk melindungi jaket buku. Hindari plastik murah yang berbau tajam, karena bahan tersebut dapat melepaskan zat yang merusak tinta dan kertas.
Ada beberapa benda yang sebaiknya tidak pernah ditinggalkan di dalam buku:
- Potongan koran, karena kertasnya cepat menjadi asam dan meninggalkan noda cokelat.
- Bunga atau daun kering yang dapat mengundang serangga dan meninggalkan bekas.
- Penjepit kertas logam yang bisa berkarat dan menodai halaman.
- Kertas tempel berperekat yang lemnya mengering dan menempel di halaman.
- Karet gelang yang lama-lama meleleh atau getas dan meninggalkan jejak.
Membuka Buku Edisi Tebal
Buku baru berjilid jahit dengan punggung kain linen perlu diperkenalkan pada tangan pembacanya secara bertahap. Membukanya langsung lebar di tengah dapat menekan jahitan dan meretakkan lem di punggung. Cara yang dianjurkan para penjilid cukup sederhana. Letakkan buku tegak dengan punggung di atas meja, buka sampul depan dan belakang perlahan hingga rebah, lalu turunkan beberapa halaman dari depan dan beberapa dari belakang secara bergantian sambil menekan lembut dekat lipatan, sampai Anda tiba di tengah buku.
Saat membaca, gunakan penyangga buku atau dua bantal kecil agar sampul tidak dipaksa terbuka rata di atas meja. Buku seni yang tebal memang tidak dirancang untuk terbuka sepenuhnya datar. Biarkan ia terbuka pada sudut yang nyaman, dan bila perlu menahan halaman, pakai pemberat kain berisi butiran, bukan benda keras atau tangan yang menekan punggung.
Tangan dan Kebiasaan Kecil
Banyak orang mengira sarung tangan katun wajib dipakai saat membuka buku langka. Untuk kertas, banyak konservator justru menganjurkan tangan yang bersih dan kering, karena sarung tangan mengurangi kepekaan jari dan membuat halaman tipis mudah tersangkut atau robek. Cuci tangan sebelum membaca, hindari losion, dan jangan membasahi jari untuk membalik halaman.
Kebiasaan kecil lain ikut menentukan umur buku: tidak makan atau minum di dekat koleksi, tidak menandai halaman dengan melipat sudutnya, dan memakai pensil lunak bila benar-benar perlu membuat catatan. Ambil buku dari rak dengan memegang bagian tengah punggungnya, bukan menarik bagian atas punggung dengan satu jari.
Mencatat dan Mengenali Koleksi
Kolektor yang baik juga seorang pencatat. Simpan catatan sederhana untuk setiap judul: nomor edisi, tanggal dan tempat pembelian, kondisi saat diterima, serta perubahan yang terlihat dari waktu ke waktu. Foto kondisi buku secara berkala. Catatan seperti ini berguna untuk asuransi, untuk penilaian bila suatu hari koleksi diwariskan, dan untuk mendeteksi masalah sejak dini.
Bagi kolektor yang memiliki banyak judul, katalog pribadi juga memudahkan perputaran pajangan dan pemeriksaan rutin. Anda bisa menandai buku mana yang terakhir diperiksa, mana yang perlu dipindahkan ke kotak, dan mana yang sebaiknya dibawa ke konservator. Kebiasaan ini terdengar administratif, tetapi justru membuat perawatan koleksi terasa lebih ringan karena pekerjaan besar dipecah menjadi langkah kecil yang teratur.
Meminjamkan dan Memindahkan Buku
Saat meminjamkan buku kepada teman atau membawanya ke diskusi, bungkus dengan kertas bebas asam atau kain bersih, lalu masukkan ke tas yang kaku agar sudutnya tidak tertekuk. Jangan meninggalkan buku di dalam mobil yang terparkir di bawah matahari, karena suhu di dalam kabin dapat naik jauh melebihi ruangan biasa dan melunakkan lem penjilidan. Sertakan catatan singkat tentang cara membuka buku dengan aman, terutama untuk edisi yang punggungnya masih kaku.
Ketika Kerusakan Sudah Terjadi
Bila menemukan bercak jamur, pisahkan buku tersebut dari koleksi lain, biarkan di ruangan yang kering dan berangin, dan jangan menyekanya dengan kain basah. Bila buku terkena air, keringkan perlahan di udara terbuka dalam posisi tegak dengan halaman sedikit terbuka, dan selipkan kertas penyerap polos di antara beberapa halaman. Jangan memakai pengering rambut atau menjemurnya di bawah matahari langsung. Untuk robekan, jangan menggunakan selotip biasa, karena lemnya akan menguning dan sangat sulit dilepas. Kerusakan seperti ini sebaiknya ditangani konservator kertas yang dapat memilih bahan perbaikan yang aman dan bisa dibalik.
Merawat buku bukan soal membuatnya tetap baru, melainkan menjaga agar ia tetap bisa dibaca, dibuka, dan diwariskan.
Prinsip-prinsip di atas menjadi semakin penting untuk koleksi foto dan reproduksi arsip, yang nada warnanya halus dan mudah berubah. Monograf Arsip Visual Hindia Baru: Dokumentasi Lensa 1920–1940, misalnya, dicetak dengan proses tri-tone pada kertas katun archival tebal, dan akan menyimpan kedalaman tonalnya paling lama bila dirawat dengan cara yang diuraikan dalam esai ini.