Empat Catatan atas Tubuh yang Bengkok: Antologi Esai Menulis Kritik MIWF 2025
Rp. 68.000
Penulis: Delukman A, Fitrilya Anjarsari, I Wayan Pain, dan Nur Fitriyanti Aspany
Sampul: Tobakci Project
Kategori: Non-Fiksi (Esai/Kritik Sastra)
Penerbit: Anagram
Halaman: x + 94 Halaman
Empat Catatan atas Tubuh yang Bengkok adalah antologi karya penulis peserta workshop Kritik Sastra di Makassar International Writers Festival 2025. Antologi ini berisi empat catatan kritis atas novela Si Bengkok karya Ichikawa Saou yang meraih penghargaan Akutagawa 2023 dan masuk longlist International Booker Prize 2025.
Masing-masing penulis menawarkan cara pembacaan yang menarik atas Novela karya penulis difabel ini, keempatnya mengajak kita bersama-sama menjawab pertanyaan: Mengapa buku ini penting? Bagaimana jika karya ini dilekatkan dengan hal-hal di luar teks seperti penghargaan di Jepang, aksesibilitas, statusnya sebagai penulis difabel pertama yang meraih penghargaan sastra bergengsi, hingga kebijakan nyata lain yang turut mempengahuri terbitanya buku ini? Bagaimana ableism dan pandangan non-disabilitas turut digugat dalam novel ini? Bagaimana eksistensi para tokohnya membangun dunia dan plot dalam cerita ini? hingga bagaimana Ichikawa Saou menciptakan makna lain dari “Bengkok” yang bukan sekadar rusak?
Delukman A, Fitrilya Anjarsari, I Wayan Pain, dan Nur Fitriyanti Aspany memberi jawaban atas soal-soal tersebut dan mengajak kita merayakan, sekaligus melakukan pembacaan ulang, karya munumental Ichikawa Saou ini.
Empat Catatan atas Tubuh yang Bengkok adalah antologi karya penulis peserta workshop Kritik Sastra di Makassar International Writers Festival 2025. Antologi ini berisi empat catatan kritis atas novela Si Bengkok karya Ichikawa Saou yang meraih penghargaan Akutagawa 2023 dan masuk longlist International Booker Prize 2025.
Masing-masing penulis menawarkan cara pembacaan yang menarik atas Novela karya penulis difabel ini, keempatnya mengajak kita bersama-sama menjawab pertanyaan: Mengapa buku ini penting? Bagaimana jika karya ini dilekatkan dengan hal-hal di luar teks seperti penghargaan di Jepang, aksesibilitas, statusnya sebagai penulis difabel pertama yang meraih penghargaan sastra bergengsi, hingga kebijakan nyata lain yang turut mempengahuri terbitanya buku ini? Bagaimana ableism dan pandangan non-disabilitas turut digugat dalam novel ini? Bagaimana eksistensi para tokohnya membangun dunia dan plot dalam cerita ini? hingga bagaimana Ichikawa Saou menciptakan makna lain dari “Bengkok” yang bukan sekadar rusak?
Delukman A, Fitrilya Anjarsari, I Wayan Pain, dan Nur Fitriyanti Aspany memberi jawaban atas soal-soal tersebut dan mengajak kita merayakan, sekaligus melakukan pembacaan ulang, karya munumental Ichikawa Saou ini.
Delukman A, Fitrilya Anjarsari, I Wayan Pain, dan Nur Fitriyanti Aspany merupakan peserta kelas workshop menulis kritik sastra 2025